Dari ukuran tersebut, katak ini diperkirakan berpeluang untuk menjadi salah satu spesies vertebrata darat terkecil di dunia. Dan dari warna kulitnya yang tampak seperti permen jelly, spesies yang diperkirakan termasuk genus Brachycephalus ini, menandakan bahwa spesies ini memang cukup mematikan. Seperti yang kita ketahui, bahwa warna cerah dan terang pada spesies katak merupakan peringatan bagi para predator, akan adanya kandungan neurotoxin pada kulit mereka.
Jika melihat ukurannya yang kecil, dan keberadaannya yang terisolasi di daerah pedalaman, dimana sangat sulit untuk bepergian ke wilayah lain, spesies katak baru ini dipercaya hanya mengandalkan perkawinan lokal untuk bertahan hidup dan berevolusi. Sehingga baik bentuk dan rupanya sangat berbeda dari katak lain di luar daerah tersebut.
Hal ini juga mengindikasikan adanya peluang kepunahan pada spesies ini. Dimana dengan jumlah yang relatif sedikit, mereka sangat terancam, baik oleh perubahan iklim, maupun tindak-tanduk manusia tidak bertanggung jawab, termasuk para peternak yang makin lama makin memperluas wilayah mereka.
Daerah yang terletak pada perbatasan antara ParanĂ¡ dan Santa Catarina ini sendiri dikenal sebagai daerah hutan yang sangat subur dan kaya akan spesies baru dan spesies langka. Sejak tahun 1800-an silam, entah sudah berapa banyak spesies baru yang diungkap keberadaannya di hutan ini secara terisolasi.
Marcio Pidari Universidade Federal do ParanĂ¡ mengatakan, “Dengan ditemukannya spesies baru ini, mengindikasikan bahwa jumlah sebenarnya dari Brachycephalus ternyata tidak diketahui, dan masih ada peluang, kita akan menemukan spesies baru lagi kedepannya.”
0 komentar:
Posting Komentar